Mimpi Timnas ke Piala dunia
Mimpi Timnas ke Piala dunia

Keluar Negeri Kok Cuma Nonton Bola (Seri 1 dari 4 Tulisan)

Posted on

Saya lupa  kapan mulainya, tapi yang pasti pengalaman saya nonton sepakbola langsung di stadion adalah saat Arseto bertemu Persegres Gresik. Kala itu tahun 1997 saat saya mulai hidup di Solo sebagai anak kost.

Beruntung Solo punya suporter yang luar biasa, kegemaran saya Nonton bola saya bawa sampai merantau ke Tangerang. Sejak jarangnya tim Solo bermain di sekitaran Jakarta, hobi menonton bola saya mulai sedikit berkurang. Menonton klub lain mungkin menarik, tapi kurang greget. Timnas adalah jawaban atas hambarnya rasa tadi. Setiap timnas bermain di GBK hampir dipastikan saya usahakan untuk datang. Bolos kerja dengan berbagai alasan pernah saya pakai untuk bisa menonton Garuda berlaga di ibukota.

Mimpi Timnas Lolos Piala Dunia

Saat Ilham Udin menceploskan bola ke gawang Vietnam seluruh orang yang nobar di sebuah cafe di Tangerang bergemuruh. Indonesia juara Piala AFF U19 usai menang adu penalti dari Vietnam. Gemuruh yang sama juga saya temui saat Timnas mengalahkan Korea Selatan di Kualifikasi AFC U-19 2014. Kemenangan itu membuat Evan Dimas dkk akan ke Yangon Myanmar untuk bertanding di Piala Asia U19 2014.

Jatuh cinta membuat semuanya akan dilakukan untuk sang terkasih. Masyarakat Brazil menabung selama empat tahun kemudian mereka menghabiskannya untuk berwisata ke negara penyelenggara Piala Dunia sekaligus mendukung timnas mereka. Demikian ritus sebagaian mereka kata seorang sahabat.

Kejuaraan U-19 AFC 2014 edisi ke 38 ini akan diadakan di Myanmar. Empat tim terbaik akan melaju ke Piala Dunia U-20 FIFA 2015 di Selandia Baru. Maka ahirnya saya pun mulai menabung untuk mewujudkan mimpi ke Piala Dunia 2015

Mimpi Timnas ke Piala dunia
Rombongan Suporter Indonesia yang mendukung langsung Timnas U19 di Myanmar.

Yangon, Pengalaman Yang Membuat Ketagihan

Myanmar adalah tujuan luar negeri pertama saya, saat membuat passport pak Imigrasi bertanya. Kerja? Jawab saya “Nonton Bola” dan meluncurlah celetukan Keluar Negeri Kok Cuma Nonton Bola. Jika boleh saya berkesimpulan, mungkin diatas 60% passport masyarakat Indonesia adalah Singapura. Maklum, wisata ke negara Singa tersebut yang paling dekat.

Apa persiapan saya jelang ke luar negeri untuk yang pertama? Browsing penginapan dan tiket pesawat tentunya. Setelah itu baru browsing cerita cerita mereka yang pernah bepergian ke sana untuk dijadikan referensi.

Tak ada pesawat Direct langsung ke Yangon. Pilihannya dengan Tiger Air dengan rute Jakarta Singapura Yangon atau dengan Air Asia Jakarta Don Mueang Yangon. Tiket pesawat baru saya beli di saat hari keberangkatan kurang seminggu. Bahkan teman saya baru hari H beli tiket pesawatnya. (soal tiket saya punya cerita seru di bagian ketiga nanti)

Jika pesawat hanya ada dua pilihan, pemilihan hotel yang paling bingung. Di awal saya berencana memilih Airbnb agar lebih murah, namun minimnya referensi orang orang yang menggunakan AirBnB membuat saya urungkan niat. Pilihannya mengerucut ke tiga hotel Satu hotel di dekat stadion dengan pilihan tempatnya lebih sepi namun lebih dekat saat besok berangkat nonton bola atau dua hotel backpacker Motherland Inn dan Ocean Pearl Inn.

Pilihan jatuh ke Motherland Inn yang punya fasilitas antar jemput ke bandara. Selain itu, rombongan teman-teman suporter Milanisti Indonesia juga menginap di sana. Daripada nyasar ini ada temennya.

Mother Land Inn - Hotel backpacker di Yangon Mother Land Inn - Hotel backpacker di Yangon 2 Mother Land Inn - Hotel backpacker di Yangon 3 Mother Land Inn - Hotel backpacker di Yangon 4

9 Oktober 2014 kami berangkat menuju Yangon, penerbangan pagi dari Jakarta. Transit sekitar dua jam di Changi kemudian sampai di Yangon sekitar pukul 20.00 WIB bergegas kami menukar Kyat (lafal : Chat) di Money Changer sini hanya menerima Dollar. Rupiah No way. Dulu kalua nggak salah bedanya kursnya 1000 rupiah : 100 kyat. Jadi gampang ngitungnya, saat makan nasi goreng di sebuah warung di Myanmar per porsinya 2000 kyat berarti 20rb rupiah.

Buat yang pernah menginap di Motherland Inn, jika biasanya toaster roti satu hotel paling ada 1 atau dua, di sini setiap meja ada toasternya. Dan telur rebus banyak banget, mungkin telur murah. Saya di hari pertama 3 telur rebus saya makan.

Dan di hotel kami, dan hamper di beberapa tempat usaha tempat kami menginap. Mereka menyediakan nasi dan lauk. Beberapa saat kemudian ada biksu yang singgah dan pemilik tempat memberikan mereka makanan tersebut. Menurut cerita Mereka namanya Monk yang punya tugas mengumpulkan donasi atau sumbangan dari warga untuk dibawa ke Pagoda untuk kemudian di salurkan.

Mereka namanya Monk yang punya tugas mengumpulkan donasi atau sumbangan dari warga untuk dibawa ke Pagoda untuk kemudian di salurkan.
Mereka namanya Monk yang punya tugas mengumpulkan donasi atau sumbangan dari warga untuk dibawa ke Pagoda untuk kemudian di salurkan.

Sarung, Rantang, Payung

Maaf ini bukan jualan alat perkakas, di Yangon kita akan menemui tiga hal tersebut. Sarung, atau biasa disebut Longyi. Gara – gara ini seoarang kawan kami bebas masuk ke shwedagon Pagoda Karena memakai sarung. Sedangkan kami ber lima di haruskan membayar 8 US dollar. Mereka berpikir kawan saya tadi adalah masyarakat local Yangon.

Payung dan Rantang, buat yang sering berjalan-jalan di pusat kota Yangon pasti akan menemui dua benda ini, Rantang untuk keperluan makan siang para pekerja sementara paying untuk berlindung dari terik matahari dan juga buat pacaran. Pacaran? Ya. Coba perhatikan di beberapa taman yang ada di Yangon pasti akan ada paying-payung yang digunakan pasangan untuk menjaga privasi mereka.

Selain payung, masyarakat Yangon juga mengunakan tanaka, semacam bedak dingin kalua di Indonesia. Tak hanya wanita, banyak pria di Yangon menggunakan bedak di pipinya. Bahkan sebuah Billboard pun memasang model dengan Tanaka di pipinya

bedak rantang 2 rantang

Shwedagon Pagoda dan Pasar Bogyoke

Kami ke swedagon bermodal map, saat jarak kurang lebih 3Km lagi kami memutuskan naik bus. Entah itu tujuan kemana, kami hanya menunjukkan gambar pagoda. Menjelamg tempat yang dituju kami turun, kami pun masuk kesebuah bagunan seperti Pagoda. Tapi kok nggak bayar, dan kecil. Ternyata sesudah 15 menit berfoto-foto ternyata itu adalah Maha Wizaya Pagoda.

Hari terakhir sebelum pulang ke Indonesia kami berencana ke Pasar Bogyoke. Jalan kaki lagi-lagi pilihan kami, selain jarak yang relative dekat dengan hotel. Cuma 3km. Kami juga bingung jika harus naik taksi. (dibaca irit ongkos)

Jika pernah ke Bugis Singapore, mungkin pasar ini tidak beda jauh. Dari yang paling murah sampai paling mahal ada di sini. Awas dengan beberapa orang yang tampak menghampirimu dan mengucap salam, lebih baik menolak secara halus daripada nanti seperti rekan saya. DI ajak ke sebuah warung, sesuai makan dia ditembak dengan harga yang mahal.

Di depan pasar Bogyoke ada beberapa “penadah” yang mau ditukar dolar lecek yang ditolak di money changer. Harganya? Sedikit di bawah rate. Namun yang harus diwaspadai adalah kecepatan tanganya saat menghitung. Teman saya sempat ngotot dihitung ulang sampai tida kali Karena selalu terjadi perbedaan hitungan. Misal kita menukar 15 dolar pesahan 1$ oleh orang tadi mereka bisa menghitung hanya 13$ atau 14$ saja. Kecepatan tangan tangan mereka harus diimbangi dengan kejelian mata kita.

Bogyoke 3 Pasar Bogyoke YangonSwedagon 2 Swedagon

Kuliner Yangon, Menu Aneh dan Tanpa Centong

Saya bukan tipe orang yang berani bereksperimen dengan kuliner baru. Saya mencari aman, nasi goreng dan mie goreng adalah andalan. Selebihnya ada beberapa resto halal yang menjual beragam menu nasi.

Cerita lucu saat kami berjalan mencari menu nasi Goreng halal. Saya menyusuri jalan Maha Bandula sesuai dari Sule Pagoda. Kami menemukan warung di dekat sebuah masjid, tak ada tulisan Halal tapi kami tahu ini daerah muslim. Kami memutuskan mampir di warung itu. Ada gambar ka’bah di dindingnya. Hahal berarti gumam saya.

Kelucuan pertama, kami disodori menu dengan tulisan yang kami tidak paham sama sekali. Kita pun memesan fried rice, Mereka masih bingung. Sampai kita harus google Image menunjukan ayam dan bebek. Mereka pun baru paham. Harganya? 2000 kyat dengan porsi bisa bertiga. Melimpah.

Dibeberapa pedagang kaki lima Yangon, centong ataupun sendok memang jarang digunakan. Mereka menggunakan tangannya untuk meracik sesuatu. Contohnya, Soto seperti ini diracik dengan tangan. Bahkan mengambil nasi pun dengan tangan. Mungkin tak semua, tapi saya menemukan ini 3 kali di tempat yang berbeda.

Kuliner yangon 2 Kuliner Yangon

Karena keterbatasan waktu, kami tidak bisa ke mandalay dan bagan. Sayang sekali pemirsa. Empat hari sangat terasa, apalagi timnas gagal lolos ke fase group. Pupus sudah mimpi ke Piala Dunia. Jika berangkatnya hanya transit 1 jam, di penerbangan pulang kami bermalam di Changi. Dari jam 12 malam sampai jam 7 pagi kami explore bandara yang luar biasa megah tersebut. Akan ada cerita saya di gelandang petugas Imigrasi saat nonton Timnas Di Sea Games Singapura. Tunggu ceritanya di Part selanjutnya.

Senin 13 Oktober 2014.
Saya : Pak Ke batuceper ya
Sopir Taksi : Oke mas, wah darimana mas Liburan ya?
Saya : Dari Myanmar mas, Nonton timnas.
Sopir Taksi : Nonton bola kok sampai luar negeri mas. Ucapan ini sama persis saat temui saat akan berangkat. Seorang bapak berkata hal yang sama.

Kalau cinta sudah melekat, **** kucing rasa coklat kata gombloh . Sampai jumpa dicerita nonton bola saya berikutnya

Arista Budiyono
bisa ditemui di akun @infosuporter

Artikel ini pernah dimuat di http://travellous.id/blog/2017/03/07/keluar-negeri-kok-cuma-nonton-bola/

Info Suporter Lainnya:

  • suporter bola keluar negri apa harus punya paspor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *