DF-F1hnVoAAqqsv

Respek dan Sportivitas oleh @fahmihasannn

Posted on

Sea Games 2017 resmi digelar pada bulan agustus ini, perhelatan yang digelar dua tahun sekali ini mulai ramai diperbincangkan. Terlebih penyelenggaraan yang diadakan di Malaysia ini menuai kontroversi ketika di acara pembukaan, buku panduan resmi Sea Games salah memasang bendera Indonesia. Merah Putih warna kebanggaan negara kita, dicantumkan di buku tersebut menjadi putih merah, terbalik dari yang seharusnya. Dan menjadi seperti bendera negara Polandia.

Pemberitaan mulai ramai ketika Imam Nahrawi sebagai Menteri Pemuda Olahraga yang menghadiri acara pembukaan mempublis foto buku tersebut di media sosial Twitter. Sontak apa yang diunduh oleh sang Menteri membuat seluruh warga negara Indonesia marah, bahkan membuat para atlet semakin terbakar semangat untuk meningkatkan prestasi mereka demi harga diri bangsa. Namun sebelum pemberitaan semakin berlarut, Menteri Pemuda Olahraga Malaysia langsung meminta maaf atas insiden tersebut, dan menarik buku tersebut dari peredaran, perbaikan pun sudah dilakukan. Permintaan maaf pun sudah direspon positif oleh Presiden Joko Widodo.

Namun apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Apa yang diperbuat oleh kecerobohan panitia Sea Games telah membuat rakyat Indonesia marah. Bahkan di media sosial saling ejek antar bangsa yang serumpun ini sudah melewati batas wajar. Tak sedikit oknum dari warga negara kita yang memposting foto terbalik bendera Malaysia, namun tak sedikit juga oknum warga negara Malaysia yang ikut terprovokasi.

Belum lagi beberapa kasus tentang indikasi tidak sportif tuan rumah muncul ketika tim sepak takraw Indonesia mundur saat pertandingan karena merasa dirugikan oleh keputusan wasit yang dianggap terkesan membela tuan rumah. Kesan negatif sudah terlanjur menempel, yang membuat apapun yang diperbuat, membuat kita selalu berfikir negatif.

DF-F1hnVoAAqqsv

Sesungguhnya bendera dan lagu kebangsaan adalah simbol negara yang menjadi jati diri bangsa. Menghornati dan menghargai simbol negara lain adalah nilai moralitas kita sebagai warga negara yang baik. Namun, tahu kah kita tidak sedikit oknum warga negara kita yang dianggap “kurang respek” terhadap simbol negara lain. Beberapa contoh seperti tahun 2010 ketika pagelaran AFF 2010 di Gelora Bung Karno, Indonesia berhadapan dengan Malaysia, ketika lagu “Negaraku” berkumandang tak sedikit oknum warga kita mengejeknya, kemudian ketika kemarin Indonesia berhadapan dengan Timor Leste.

Kesan rivalitas yang akan semakin memanas muncul ketika Tim Sepak Bola Sea Games Indonesia akan berhadapan denga Malaysia di babak semi final. Dengan segala latar belakang yang menyelimuti kedua negara tetangga ini, diprediksi akan banyak cerita yang ramai. Pertandingan yang diselenggarakan di Shah Alam yang memiliki kapasitas penonton 80.000 penonton, dan diberikan jatah 10.000 penonton untuk pendukung Indonesia. Banyak ketakutan terjadi sebelum pertandingan berlangsung, ketakutan keamanan dan yang lainnya.

Namun, apa yang terjadi di lapangan sangatlah mencairkan suasana panas yang sebelumnya terjadi. Tidak ada laga keras yang menjurus kasar, tidak ada cemoohan yang berlebihan, penonton fokus menikmati pertandingan. Dominasi Indonesia di pertandingan tersebut membuat Malaysia lebih sigap dalam menyusun serangan balik. Dan hal yang ditakutkan warga Indonesia pun muncul di akhir laga, ketika penyerang Malaysia menceploskan bola ke gawang yang dijaga Satria Tama. Usaha yang sangat jelas terlihat dari para pemain Indonesia belum menemukan hasil yang baik. Hingga wasit akhirnya meniup peluit tanda pertandingan berakhir.

Momen terbaik terjadi saat pemain kita tertunduk lesu, menangis dan kecewa terhadap hasil akhir yang terjadi. Reaksi dari pemain dan jajaran offisial tim Malaysia segera menghampiri para pemain muda kebanggaan Indonesia tersebut, tidak sedikit dari mereka yang dipeluk dan dibangunkan dari kekecewaan mereka, bahkan dalam sesi wawancara pemain andalan Malaysia mengungkapkan bahwa Indonesia layak mendapatkan medali atas penampilannya selama di Sea Games, dan penampilan yang dominan saat berhadapan dengan Malaysia membuat pasukan Negeri Jiran berharap Indonesia menang saat berhadapan dengan Myanmar. Tentu suasana haru ketika sang tetangga menyemangati dan mengakui keunggulan Indonesia diluar pemberitaan yang kurang sedap sebelum pertandingan.

Setidaknya dengan kejadian tersebut mengingatkan kita semua untuk lebih menghargai simbol negara kita, dimana bendera dan lagu kebangsaan berkumandang kita tunjukan cara kita menghargai dengan berdiri dan menyanyikannya. Dan juga kita bisa lebih menghargai simbol negara lain.

Dan mengingatkan kita bahwa olahraga tetaplah olahraga, kita semua harus tetap menjunjung tinggi nilai sportivitas, apapun itu hasilnya pada penyelenggaraan Sea Games tahun ini, yang lebih penting dari prestasi adalah tindakan sportif dari para insan olahraga untuk menghargai olahraga itu sendiri. Respek yang dipertunjukan oleh tim Malaysia menyadarkan kita bahwa olahraga adalah tempat untuk kita menyatukan perbedaan dan menjaga tali persaudaraan. Tetap junjung tinggi respek dan sportivitas dalam berolahraga.

Cerita ini adalah kiriman dari follower Infosuporter, isi dari cerita di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat cerita kamu sendiri? Klik di sini sekarang!

Info Suporter Lainnya:

  • contoh permintaan maaf kepada suporter tuan rumah
  • latar blakang dari opini suporter indonesia yg terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *